Pendakian Danau Taman Hidup Gunung Argopuro – Via Bremi

DANAU TAMAN HIDUP, MISTIS TAPI MENAWAN

Dokumentasi pribadi

Danau Taman Hidup merupakan salah satu spot indah yang dimiliki Gunung Argopuro, Gunung yang memiliki predikat dengan trek terpanjang se-Jawa. Danau ini berada di ketinggian 1980 mdpl,yang termasuk area Gunung Argopuro dan merupakan suaka marga satwa dataran tinggi Hyang, berada di daerah Probolinggo - Jawa Timur. Danau indah ini memiliki luas badan air kurang lebih 11 Ha dengan rawa-rawa yang mengelilinga seluas kurang lebih 4 Ha.

Danau Taman Hidup merupakan satu-satunya danau yang ada di jalur pendakian Gunung Argopuro. Lokasinya masuk wilayah Kabupaten Probolinggo. Sementara secara keseluruhan luas wilayah, pegunungan Argopuro terbagi di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Probolinggo, Situbondo, Bondowoso dan Jember. Untuk bisa mencapai danau di ketinggian 1980 meter di atas permukaan air laut (mdpl) para pendaki dapat melalui dua jalur utama, yaitu melalui pintu masuk Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Atau, melalui Desa Baderan, Kecamatan Bantengan, Kabupaten Situbondo. Tetapi umumnya, jika pendaki hanya ingin menuju danau Taman Hidup, maka jalur yang tepat yakni melalui Desa Bermi, Kabupaten Probolinggo. Sebab jika melalui Desa Baderan, Situbondo jalurnya jauh lebih panjang.

Bicara tentang pemandangan yang indah, Danau Taman hidup sudah tidak diragukan lagi keindahannya. Keindahan tersebut bahkan dengan mudah dinikmati para petualang dari dunia maya dan media sosial, khususnya Instagram yang membuat danau ini semakin terlihat indah. Para petualang banyak yang membagikan hasil foto atau videonya ke media sosial.

Sehingga, banyak impresi yang dihasilkan dari berbagai postingan atau rekaman baik foto maupun video tentang Danau Taman Hidup. Rata-rata impresi tersebut berisikan kekaguman dengan keindahan danau, ada juga yang menjadi penasaran dengan cerita mistis yang ada di sana.

Danau taman Hidup menyimpan sebuah pesona alam yang memukau dengan jalur yang bisa dibilang cukup liar. Membutuhkan waktu sekitar lima sampai enam jam perjalanan untuk bisa sampai ke Danau Taman Hidup. Satwa liar yang masih terjaga seperti ular, kelabang, ulat, pacet, dan cacing hutan masih sering dijumpai dan menjadi teman selama pendakian.

Yah, dibalik keindahan dan keistimewaannya, Danau Taman Hidup menurut kepercayaan masyarakat setempat menyimpan sisi mistis dan misteri, yaitu adanya sosok Dewi Rengganis. Dewi Rengganis di percaya sebagai penunggu Danau Taman Hidup dan juga penunggu Gunung Argopuro 

Sehingga, ketika berkunjung ke danau ini, pendaki selalu dihimbau untuk selalu berhati-hati dan manjaga tingkah laku dengan tidak membuat kegaduhan, berkata kasar ataupun ulah yang negatif lainnya. Jika tidak, hal tersebut konon dapat membuat sang Dewi Rengganis marah. Menurut cerita, Danau Taman Hidup merupakan tempat mandi dan bermainnya Dewi Rengganis dan dayang-dayangnya dahulu kala.

Kemarahan Dewi Rengganis biasanya ditandai dengan turunnya hujan secara tiba-tiba, serta kabut pekat putih yang datang dan menutupi dermaga kecil yang ada di Danau Taman Hidup, Sehingga, Danau Taman Hidup tak terlihat dari kejauhan karena terselimuti kabut itu. Suasana di sekitar bukit di area Danau Taman Hidup sangatlah sunyi dan tenang, karena memang tidak ada pendaki yang berani membuat suara bising. 

Beberapa cerita juga menyebutkan, bahwa beberapa pendaki ada yang hilang karena menghadapi kemarahan Dewi Rengganis dan datang ke danau saat malam hari. Ada juga yang mengatakan, jika pendaki yang hilang dijalur pendakian dikarenakan tidak tahu medan. Entah apapun penyebabnya, memang tidak disarankan untuk melakukan pendakian malam hari. Selain itu, konon Dewi Rengganis dan dayang-dayangnya suka menggoda para pendaki untuk menceburkan diri ke danau. Terlepas dari sisi mistisnya, setiap pendaki memang tidak patut bertingkah sembarangan ketika di alam bebas.

Bagi kalian yang pernah mengunjungi danau taman hidup, suasana yang tenang pasti akan selalu dirindukan dan dikenang. Misteri dan kemistisannya akan jadi keistimewaan yang indah di setiap jiwa yang mengunjunginya dan tidak usah dipertanyakan bagi kalian yang belum pernah kesana, coba datanglah karena Danau Taman Hidup akan selalu menunjukkan kepada kita apa yang membuatnya sangat eksotis dan istimewa.

Back to topic : Cerita Pendakian Danau Taman Hidup

Dokumentasi pribadi

Kembali ke jalur menuju Danau Taman Hidup. Dari Desa Bermi, pendaki harus mempersiapkan banyak hal. Mulai dari logistik, hingga kebugaran fisik. Patut diketahui, menuju Danau Taman Hidup melalui Bermi akan melewati track menanjak yang tidak ada ampun. Beberapa spot terbilang ekstrem, dan bisa dibilang ada dua pilihan jalur, pertama jalurnya seperti menaiki anak tangga karena harus melewati akar pohon yang licin dan berlumut jadi kita harus memantapkan pijakan. Kedua, jalur sepeda yang cukup licin ketika musim hujan. So, sudah pasti melelahkan dan memaksa otot kaki mengencang kuat serta membutuhkan ekstra hati-hati.

Jika dirunut dari jalur bawah, yang pertama dari basecamp pendaki akan melewati jalan aspal perkampungan. Kemudian pendaki akan menjumpai dan melewati tanaman perkebunan masyarakat. Tanaman tersebut eperti cabai, kubis, dan tanaman sayuran lainnya, dan kita harus tetap berada dijalur yang benar agar tidak salah jalan dan memasuki kebun warga. Suhu udara di jalur tersebut masih tergolong hangat. Estimasi waktu dari Basecamp ke area perkebunan 1.5 – 2 jam.

Setelah melewati perkebunan dan keringat kecil mulai membahasahi tubuh, pendaki akan masuk ke kawasan hutan damar yang super rindang dan sejuk. Tubuh pendaki yang semula hangat, bisa mendadak dingin. Jika badan tidak bugar, bukan tidak mungkin pendaki akan merasakan panas dingin. Kawasan itu adalah hutan damar.

Pepohonan damar menjulang dan tumbuh rapat. Hal itulah yang membuat area hutan damar super sejuk dan kurang sinar matahari, Nah karena hutan damar ini kekurangan sinar matahari dan lembab pendaki harus siap-siap terhadap serangan nyamuk, Setelah melewati hutan damar, setiap pendaki akan melewati hutan luas dengan aneka ragam tumbuhan. Bahkan pohon berusia ratusan tahun, dengan diameter sekitar 2 meter dapat dijumpai. Jangan dibayangkan akan banyak tumbuhan buah di dalam hutan tersebut. Tidak ada sama sekali. Tapi bagi pendaki yang ingin memperdalam materi survival, tumbuhan yang ada sudah cukup untuk bertahan hidup seadanya. Selanjutnya pendaki akan memasuki kawasan semak belukar tinggi dengan track yang semakin licin. Sepanjang perjalanan menuju Danau Taman Hidup kita akan banyak melewati semak-semak yang dihinggapi pacet (lintah) jadi harus lebih berhati-hati.

Setelah melewati jalur yang cukup panjang, pendaki akan tiba di tanah lapang yang tidak begitu luas. Di salah satu pohon di lahan lapang tersebut terdapat plang yang dipasang oleh Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam atau BBKSDA Jawa Timur. Plang itu bertuliskan "Kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang". Nah, jika telah sampai dan melihat plang tersebut, itu artinya pendaki sudah berjarak sekitar 300 meter ke arah timur menuju Danau Taman Hidup.

Untuk sampai di Danau Taman Hidup, pendaki tidak lagi melewati track menanjak. Jalurnya sudah landai, dan membuat para pendaki segera bergegas untuk segera sampai dan melihat keindahan danau. Yap, tibalah kita di danau yang dikenal mistis tersebut. Tapi tenang saja. Asal kita tidak berbuat yang negatif, maka kejadian mistis itu tidak akan kita alami.

Perlu diketahui, debit air Danau Taman Hidup cukup besar. Di sekelilingnya tumbuh tanaman rumput rawa. Jadi untuk bisa mencapai air jernih Taman Hidup, pendaki bisa melewati jembatan kayu yang menyerupai anjungan. 

Di ujung anjungan terpasang gubug kayu sederhana, sehingga siapa saja bisa berteduh di bawahnya. Biasanya, di gubug tersebut pendaki memanfaatkannya untuk menikmati keeksotikan Danau Taman Hidup, dengan latar perbukitan. Gubug kayu tersebut memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan spot foto para pendaki. Terlebih pada saat kabut turun, hasil foto akan lebih Instagrammable. Biasanya dari anjungan ini, pendaki mengambil air danau untuk minum dan memasak. Ada juga pendaki yang memancing, untuk mendapatkan ikan segar dari dalam air danau tersebut. 

Jika memang harus bermalam di sana, para pendaki sebaiknya mendirikan tenda di padang ilalang yang agak sedikit jauh dari danau. Percaya tidak percaya dengan kisah ini, saran yang diberikan sebenarnya cukup masuk akal. Saat curah hujan tinggi, air kadang meluap hingga menenggelamkan jembatan kayu di tepi danau. Mendirikan kemah di lokasi ini jelas berbahaya, entah bahaya dari kekuatan magis atau kekuatan alam.

Siapapun akan merasakan betah berlama-lama di Taman Hidup. Udaranya sejuk. Mata memandang daun hijau di sekiling danau rasanya tidak bosan. Jadi, jika Anda berniat melakukan pendakian ke Danau Taman Hidup di Gunung Argopuro, maka persiapkanlah fisik dan mental Anda, serta membawa perbekalan yang cukup Anda. Tetaplah ikuti prosedur pendakian yang benar, dengan tetap menjaga etika pendakian.

TIPS BERKUNJUNG

  • Anda Disarankan datang ke Danau Taman Hidup pada saat hari cerah, tidak disarankan melakukan pendakian ketika musim hujan.
  • Persiapkan fisik Anda dalam keadaan baik, agar bisa maksimal dalam berpetualang ke Danau Taman Hidup.
  • Ada baiknya Anda untuk membawa bekal seperti minum atau makanan ringan sedari rumah atau sebelum masuk area danau.
  • Jika Anda ingin berkemah, maka perlu berhati-hati dan juga waspada mengingat kawasannya yang sepi jauh dari keramaian.
  • Bersama-sama menjaga kebersihan area danau dengan tidak membuang sampah sembarangan.
  • Jaga sikap, tingkah laku dan juga tutur kata selama berada di Danau Taman Hidup demi kebaikan bersama.

Komentar